BIMA. Nama lainnya adalah Bratasena, Senoaji, atau Werkodara. Ia dikenal sebagai Pandawa yang bertubuh tinggi besar, memiliki kuku sakti Pancanaka dan dalam beberapa ilustrasi pewayangan mengenakan kalung ular dan bersenjatakan gada Rujakpala. Sewaktu kecil, kulit Bima terbungkus sejenis “membran” sehingga menimbulkan hawa panas yang mengganggu para makhluk halus di hutan Mandalara, tempat main Bima kecil. Oleh karenanya Batara Guru kemudian mengutus Betari Durga untuk melengkapi Bima dengan kain poleng bang bintulu, kelatbahu, gelang candrakirana, kalung nagabanda, dan pupuk jarot asem. Setelah Betari
Durga memasang semua kelengkapan tersebut, Gajah Sena turun diutus oleh Betara Guru untuk memecah “membran” yang membungkus kulit Bima. Gajah Sena adalah putra Gajah Erwata yang mencari kesempurnaan di Kahyangan. Gajah Sena berhasil membuka kulit tersebut, namun ia tewas oleh Bima dan tubuhnya menyatu ke dalam Bima. Begawan Sapwani kemudian mengambil sisa “membran” Bima dan memantrainya sehingga menjadi seorang ksatria bernama Jayadrata. Sewaktu remaja ia pernah dibuat mabuk oleh Kurawa dan dibuang ke sumur Jalatunda yang penuh ular. Ia diselamatkan Begawan Badawanganala yang memberinya kesaktian anti racun. Sewaktu para Pandawa diajak pesta mabuk oleh Kurawa, hanya Bima yang tidak mabuk. Ketika kurawa membakar tempat peristirahatan pandawa, maka Bima seorang diri mengangkat keempat saudaranya dan ibunya menyelematkan diri ke sebuah terowongan yang menuju ke kayangan Saptapertala. Ia kemudian menikah dengan putri Sang Hyang Antaboga (penguasa dunia bawah tanah), Dewi Nagagini, dan memiliki anak Antareja. Sewaktu kembali ke Astina rombongan Pandawa melalui hutan Pringgandani kekuasaan raja Arimba. Arimba meminta Bima menikah dengan adiknya agar mereka boleh melalui hutan ini, namun Bima melecehkan Arimba. Mereka bertarung sehingga Arimba tewas. Dewi Kunti, ibu para Pandawa, kemudian memantrai Arimbi, adik Arimba, agar menjadi cantik dan menikah dengan Bima. Bima kemudian memiliki putra bernama Gatotkaca. Bima kemudian disuruh Dorna mencari air suci tirta perwitasari di tengah samudra. Ia di tengah laut diselamatkan oleh Dewa Rutji yang memberinya pengetahuan dan kebijaksanaan mengenai air kesucian yang mengalir di dalam hati (perwitasari). Ia kemudian menikah dengan Dewi Urang Ayu, putri Batara Baruna, dan memiliki anak Antasena. Selama perang Baratayudha, Bima dan Arjuna diandalkan oleh Kresna untuk berhadapan dengan guru-guru mereka, Dewabrata dan Dorna, karena para perwira Pandawa banyak yang gugur di tangan mereka berdua. Bima banyak menewaskan Kurawa di medan perang, termasuk menghirup darah Dursasana dan mengalahkan Duryudana di perang terakhir antara Pandawa dengan Kurawa.***
24 Juni 2009
Bima / Senoaji
Yudhistira / Puntadewa
YUDHISTIRA. Dikenal juga dengan nama Darmawangsa, Darmakusuma, Kantakapura, Gunatalikrama, Puntadewa, dan Samiaji. Yudistira dianggap sebagai keturunan Dewa Keadilan, Batara Dharma. Ia adalah tipe murni seorang Raja yang baik. Darah putih mengaliri nadinya. Ia tidak pernah murka, tidak pernah bertarung, tidak pernah juga menolak permintaan siapa pun, betapapun rendahnya sang peminta. Waktunya dilewatkan untuk meditasi dan penghimpunan kebijakan. Senjata pusaka Yudistira adalah Kalimasadha yang misterius, naskah keramat yang memuat rahasia agama dan semesta. Dia adalah cendekiawan yang memerintah dengan keadilan dan kemurahan hati. Ia konon tidak memakai
perhiasan, kepala selalu merunduk sebagai tanda mawas diri, dan raut muka bangsawan yang halus. Kelemahan Yudistira adalah judi. Kelemahannya ini telah mengakibatkan dirinya dan adik-adiknya tertipu dan dikalahkan dalam adu judi oleh Duryudana, Raja Hastina. Yusdistira (dan Pandawa keseluruhannya) terpaksa menyerahkan negaranya dan membuang diri ke hutan selama 13 tahun. Sewaktu perang Baratayudha, ia berada di kereta perang bersama Kresna menemui Dorna. Bima yang telah membunuh gajah Hastathama meneriakan suara Aswatama sehingga Dorna mengira anaknya (Aswatama) telah mati. Agar strateginya berhasil, Kresna membawa Yudistira ke medan perang dan memintanya mengatakan bahwa Aswatama yang tewas oleh Bima. Akibat perbuatannya ini Yudistira mendapat hukuman. Kereta perangnya yang semula dikaruniai kemampuan melayang sejengkal di atas tanah, kini terpaksa harus turun menginjak tanah. Selain itu, ia adalah satu-satunya kstaria yang berhasil membunuh prabu Salya dari Mandaraka. Salya adalah ksatria tanpa tanding dengan kesaktiannya aji Candrabirawa. Candrabirawa adalah raksasa yang menetap di dalam tubuh Salya, dapat dikeluarkan dan diperintah sesuka pemiliknya. Tidak ada yang dapat membunuh Candrabirawa kecuali pemiliknya mati. Oleh karenanya Kresna membawa Yudistira untuk bertarung dengan Salya. Salya sebenarnya enggan berperang dengan Yudistira karena ia tahu Yudistira adalah titisan Batara Dharma. Semua anak panah Salya tidak ada yang sanggup mengenai Yudistira. Ia kemudian menantang Yudistira untuk menyerangnya. Satu anak panah Yudistira yang diarahkan ke tanah memantul ke arah Salya dan menembus jantungnya. Yudistira menikahi Drupadi dan mempunyai satu putra bernama Pancawala yang tewas oleh Aswatama yang membalas dendam kematian Dorna.***
perhiasan, kepala selalu merunduk sebagai tanda mawas diri, dan raut muka bangsawan yang halus. Kelemahan Yudistira adalah judi. Kelemahannya ini telah mengakibatkan dirinya dan adik-adiknya tertipu dan dikalahkan dalam adu judi oleh Duryudana, Raja Hastina. Yusdistira (dan Pandawa keseluruhannya) terpaksa menyerahkan negaranya dan membuang diri ke hutan selama 13 tahun. Sewaktu perang Baratayudha, ia berada di kereta perang bersama Kresna menemui Dorna. Bima yang telah membunuh gajah Hastathama meneriakan suara Aswatama sehingga Dorna mengira anaknya (Aswatama) telah mati. Agar strateginya berhasil, Kresna membawa Yudistira ke medan perang dan memintanya mengatakan bahwa Aswatama yang tewas oleh Bima. Akibat perbuatannya ini Yudistira mendapat hukuman. Kereta perangnya yang semula dikaruniai kemampuan melayang sejengkal di atas tanah, kini terpaksa harus turun menginjak tanah. Selain itu, ia adalah satu-satunya kstaria yang berhasil membunuh prabu Salya dari Mandaraka. Salya adalah ksatria tanpa tanding dengan kesaktiannya aji Candrabirawa. Candrabirawa adalah raksasa yang menetap di dalam tubuh Salya, dapat dikeluarkan dan diperintah sesuka pemiliknya. Tidak ada yang dapat membunuh Candrabirawa kecuali pemiliknya mati. Oleh karenanya Kresna membawa Yudistira untuk bertarung dengan Salya. Salya sebenarnya enggan berperang dengan Yudistira karena ia tahu Yudistira adalah titisan Batara Dharma. Semua anak panah Salya tidak ada yang sanggup mengenai Yudistira. Ia kemudian menantang Yudistira untuk menyerangnya. Satu anak panah Yudistira yang diarahkan ke tanah memantul ke arah Salya dan menembus jantungnya. Yudistira menikahi Drupadi dan mempunyai satu putra bernama Pancawala yang tewas oleh Aswatama yang membalas dendam kematian Dorna.***
23 Juni 2009
Pandawa Lima

Hallo semuanya...kali ini Senaji mau sajikan posting lain dari pada yang lain. Sepenggal kisah Pandawa Lima dalam perang Mahabarata. Mengapa? Ayah Senoaji sangat senang sekali dengan dunia pewayangan.
Karena sekarang ini banyak sekali anak-anak tidak mengenal tradisi budaya bangsa. Sudah terkontaminasi dengan dunia modern.

Tidak dipungkiri, kemajuan jaman memang perlu, namun janganlah melupakan tradisi kita sebagai budaya timur yang adiluhung.

Semoga Senoaji dididik dalam tradisi Jawa yang kental dengan budaya dan nilai tata krama yang tinggi. Dan Senoaji minta kepada ayah agar selalu menceritakan dunia pewayangan, seperti ayah diceritakan oleh Eyang kakung Surono waktu kecil dulu.
Nah selamat membaca yaa...
21 Juni 2009
Main di rumah Eyang Kudus
Helloooo...jumpa lagi di blognya Senoaji...

Sekarang Senoaji mau tampilkan foto-foto mesra Senoaji sama Mama...en foto Senoji sama Mas Iyan di Menara Kudus. Wah asyik banget jalan-jalan sama ayah-mama-bunda santi-mas iyan-mas niyal dan para mbah uti dari Kanfer.

Anjangsana di rumah eyang Kudus dalam rangka jenguk eyang Kakung Kudus yang sedang sakit....Senoaji do'akan sen=moga cepet sembuh yaa eyang...trus bisa main lagi sama Mas Iyan-Mas Niyal-Mas Nanda-Mbak Yunda dan Senoaji.

Ya udah lanjut aja nikmati foto-foto Senoaji yaa

Sekarang Senoaji mau tampilkan foto-foto mesra Senoaji sama Mama...en foto Senoji sama Mas Iyan di Menara Kudus. Wah asyik banget jalan-jalan sama ayah-mama-bunda santi-mas iyan-mas niyal dan para mbah uti dari Kanfer.

Anjangsana di rumah eyang Kudus dalam rangka jenguk eyang Kakung Kudus yang sedang sakit....Senoaji do'akan sen=moga cepet sembuh yaa eyang...trus bisa main lagi sama Mas Iyan-Mas Niyal-Mas Nanda-Mbak Yunda dan Senoaji.

Ya udah lanjut aja nikmati foto-foto Senoaji yaa
Langganan:
Postingan (Atom)
